Pendidikan Muhammadiyah

Pendidikan Muhammadiyah

Muhammadiyah merupakan Gerakan Islam, berasas Islam, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, yang gerakannya melaksanakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Gerakan Muhammadiyah didirikan sejak tahun 1912 oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Awal didirikannya pendidikan Muhammadiyah oleh KH. Ahmad Dahlan adalah untuk membantu para kaum miskin yang tidak mampu sekolah yang bermula dari penafsiran Al-Maun yang kemudian dikenal sebagai teologi Al-Maun. KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah agama modern pertama untuk rakyat miskin. Bahkan KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah tersebut bukan hanya untuk kaum miskin, namun juga untuk kaum elit. Hingga akhirnya sampai saat ini, Muhammadiyah merupakan NGO (Non Govermental Organisation-NGO) yaitu Organisasi non pemerintah yang paling tua dan paling awal mendirikan sekolah. Muhammadiyah menjadi NGO yang terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yang memiliki lembaga pendidikan mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi (PT)

Kehebatan Muhammadiyah dalam mengelola lembaga pendidikannya memang sudah tidak diragukan lagi, bahkan diantara sekolah-sekolah dan perguruan tinggi swasta yang lain, Muhammadiyah menempati urutan pertama dalam kepercayaan masyarakat saat memilih sekolah atau PT bagi anaknya.

Sekolah (pendidikan) Muhammadiyah, sejak didirikan hingga saat ini, berasal dari komunitas basis atau kesadaran pribadi warganya. Gagasan genial KH. Ahmad Dahlan sampai saat ini dirasa masih tetap relevan dan signifikan bagi perkembangan pendidikan pada masa sekarang. Gagasan tersebut yang kemudian menjadi ruh dan kekuatan penggerak pendidikan Muhammadiyah. Namun ide besar KH. Ahmad Dahlan tersebut kurang begitu dipahami dan dikaji oleh para aktivis dan praktisi pendidikan Muhammadiyah. Sehingga pendidikan Muhammadiyah saat ini banyak dikatakan sudah menjauhi apa yang telah digagas oleh KH. Ahmad Dahlan. Yang ada pendidikan Muhammadiyah menjadi kepanjangantanganan regulasi pemerintah.

Dengan modal kepercayaan dari masyarakat terhadap amal usaha pendidikan dan kesehatan Muhammadiyah, pendidikan Muhammadiyah harus dikelola secara profesional dan progresional dan tidak bisa lagi dikelola secara ala kadarnya dan hanya menjadi kegiatan sampingan.

Fungsi pendidikan dalam Muhammadiyah, sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Qomari Anwar, MA, yakni : Sebagai ibadah dan sarana dakwah Muhammadiyah amar ma ‘ruf nahi munkar, sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, sebagai upaya mencerdaskan bangsa, dan yang terakhir dan cukup penting kiranya adalah sebagai sarana kaderisasi Muhammadiyah sendiri.

Dengan berlandaskan keempat hal tersebut, maka Mahammadiyah perlu segera melakukan pembenahan internal pendidikan Muhammadiyah untuk melakukan evaluasi terhadap mutu sekolah Muhammadiyah. Namun, yang perlu diingat oleh kita semua, khususnya aktivis dan praktisi pendidikan Muhammadiyah, adalah menjadikan sekolah Muhammadiyah kembali menjadi “Penolong Kesengsaraan Oemoem” sebagaimana yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan. Jangan sampai pendidikan Muhammadiyah justru menjadi penyebab naiknya angka putus sekolah karena mahalnya pendidikan Muhammadiyah

Namun yang harus kita banggakan sebagai dalam pendidikan Muhammadiyah,khususnya sebagai Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang khususnya,karena Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menempati posisi kedelapan dalam ranking web of world universities dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Institusi pemberi ranking tersebut, Webometrics, juga menempatkan UMM di posisi 1.264 dari 20 ribu universitas di seluruh dunia, UMM kali ini juga berhasil menembus peringkat 35 ASEAN. Dalam ranking Webometrics yang baru, UMM berada di bawah UI, ITB, UGM, IPB, Universitas Gunadarma, UM, dan Universitas Kristen Petra.Setelah UMM, posisi selanjutnya ditempati Undip, Unand, UNS, Unsri, dan UB.

Pemeringkatan perguruan tinggi sedunia ini dilakukan oleh Cybermetrics Lab, Spanyol dengan menilai lebih dari 20 ribu website perguruan tinggi sedunia.

Ranking dibuat dua kali setahun, yaitu: Januari dan Juli. Dalam webometrics, ada empat indikator yang dinilai, yaitu: size (ukuran), visibility (banyaknya website luar yang link ke website UMM), rich files (banyak konten dokumen dalam format pdf, doc dan ppt), serta scholar (banyaknya karya ilmiah UMM yang diakui sebagai sumber ilmiah oleh Google Scholar).
Dalam segi mutu atau kualitas pendidikan Muhammadiyah, hal ini menjadi tanggung jawab kita semua sebagai warga persyarikatan. Maju dan tidaknya pendidikan Muhammadiyah adalah ditangan kita semua.

Sumber : http://pewe3.student.umm.ac.id/page/4/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s